Ini Hanyalah cerita fiksi belaka, hanya karangan penulis
Oleh : Abdul Hafizh
Batavia,
13 September 1949
“ Aimar cepatlah kau
beranjak dari meja kerja kesayangamu itulah, enyahlah sejenak dari duniamu itu,
malam ini malam minggu mari kita nikmati masa remaja yang penuh cerita romansa
ini”
“ diam kau igor, aku mengerti, sedikit lagi lah, puisi untuk Ainiku belum
kelar nih”
“
ciaah Aini, Aini, Aini tidak ada wanita lain apa selain belahan jiwa mu itu?
Lupakanlah si Aini itu dia akan di jodohkan bapaknya dengan saudagar kaya asal
ranah negeri minang, jangan bermimpilah kau bisa dapatkan Aini. Cepatlah kau
kenakan blazzermu itu”
“
iya… iya… ah kau Igor bawel kali kau kayak burung beo kau ini, kubuktikan
dengan puisi ku ini ku bisa dapatkan Aini. Igor.. eh Igor… kau main pergi pergi
saja !”
Igor yang telah pergi meninggalkan
aku begitu saja, dengan sesegera mungkinku beranjak dari mejaku ku mengambil
blazer cream tergantung di kaitan, dan langsung menyusul Igor yang sudah tampak
kesal menunggu di branda kontrakan.
Aku dan Igor pergi kepesta muda mudi
mingguan di lapangan kecil pojokkan ujung jalan, malam itu begitu banyak sekali
muda mudi , ada yang bersama pasangannya, da nada juga yang bersama
teman-temannya berharap bisa mendapatkan belahan jiwa pujaan hati malam ini.
“
Gor mana sih Todi dan Arnold, baru ingat aku”
“
Todi sama Arnold kerumah temannya di Kebayoran ada keperluan, nanti juga nyusul
katanya”
Dengan
malam yang bersahabat tampa rerintik hujan, mungkin Tuhan mengizinkan kami untuk berpesta malam ini, lantunan lagu-lagu,
lampu-lampu, cengkrama muda-mudi, seringkali tawa-tawa kecil terdengar dari
bibir mungil wanita-wanita yang merah merona.
“Aimar
…. Hei Aimar itu lihat wanita-wanita
disudut itu, manis-manis kali”
Sementara
itu aku masih melirik-lirik kesudut yang berlawanan dengan Igor, melihat
sesosok wanita yang sedernaha nan jelita, jikalau mataku tak salah itu Aini
dengan sahabat-sahabatnya.
“
ciaah kamu masih juga mengharapkan Aini, sudahlah bapaknya tak setuju dengan kau,
eh ingat kita ini bukan siapa – siapa, sedangkan dia kau taulah siapa bapaknya
itu”
“sekali
lagi kau berbicara ku sumpal mulut kau Igor”
Ku
acuhkan saja bawela Igor, ku beranikan mendekati Aini di sebelah barat tempat
kami berdiri.
“
hei Aini, anggun sekali kau malam ini”
“haha..
eh Aimar bisa aja kau, enggaklah aku biasa-biasa aja ngga ada yang spesial
dengan ku, aku kalah cantik dengan wanita-wanita yang berdansa itu”
“justru
itu yang aku suka darimu Aini, sederhana kamu itu yang bikin aku suka”
“
cie si Aimar… hhihihi” sontak mendengar kalimat itu wajahku dan Aini merah
merona bak buah apel yang lagi matengnya.
“
apaan kalian sih.. yuk gabung sama Igor tu disono tu bocah”
“hihi
cie malu nih, yang mengalihkan perhatian.. oke deh boleh boleh”
“
hei Igor, sendiri aja nih hehehe..”
“
eh kalian, ngga ni bedua ama Aimar nih, dianya malah main ninggalin aja”
“haha dasar sih Aimar, eh mana yang lain Todi sama Arnlod?”
“ya mereka pergi ke kebayoran, entar juga nyusul”
“haha dasar sih Aimar, eh mana yang lain Todi sama Arnlod?”
“ya mereka pergi ke kebayoran, entar juga nyusul”
”
kalian.. eh lama yah nunggu?”
”eh
kalian baru aja diomongin”
Yah
begitulah malam minggu kami pun dipenuhi berbagai cerita canda tawa
Tak
lama kemudian terdengar suara Peugeot 203, beberapa Peugeot parkir didepan
kerumunan pesta dengan sembrono nya.
“
heem mereka lagi.. anak-anak bangsawan yang sombong dengan Peugeot nya”
“
iya kudengar bapak mereka itu adalah antek-antek Belanda”
“
Gor ngga usah ngomongin Belanda disini nih, hati-hati mulut kau, sekarangkan
masih dalam operatie kraai (operasi
gagak Agresi militer Belanda kedua)”
“yah
biarin dah, kan kita ini udah merdeka, mereka ngga berhak lagi atas tanah air
ini “
“udah
Gor, cari aman aja deh, ngomongin Belanda, ketahuan lu bakal ditawan tu”
“
iya- iya deh “
Selang
beberapa menit setelah itu kami putuskan untuk pulang, muak meihat gaya mereka
yang sombong dan kebarat-baratan.
***
Aku, Igor, Todi, sama Arlond adalah
bocah Medan yang dapat kesmpatan menikmati beasiswa, sehingga kami merantau
dari tanah ompunta kami di Sibolga, dan bersekolah di Sekolah menengah Oemoem
Atas di Batavia (Sebelum Menteri Penerangan Arnlod Monotu menegaskan Batavia
menjadi Jakarta pada tangelo 30 Desember 1949). di Batavia kami mengotrak di
rumah ibu Susi di Kebon Kelapa.
Disekolah aku tak pandai berhitung
seperti halnya Igor, tak pandai Ilmu Perdagangan seperti Arnlod dan tak sehebat
Todi dengan analisis Sainsnya. setiap harinya yang ku sukai di sekolah adalah
sastra, sastra dan sastra, dalam kamus pendidikanku hanyalah sastra yang paling
terbaik. pak Abdul Latief guru senior Ilmu kesastran di sekolahku, selalu dapat
membuatku selalu membara-bara untuk menjadi sastrawan hebat dengan
kutipan-kutipan yang sering kali dia ucapkan. Selain itu Armijn Pane dengan
jiwa berjiwa, belenggu, Kort overzicht van de Moderne Indonesische Literatuur
miliknya, ada juga Ali Hasjmy dengan sayap terkulai, dewi fajar, dewan sajak,
suara adzan dan lonceng gereja, atau yang menjadi primadonaku sajak-sajak puisi
Chairil Anwar dengan Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus , Deru
Campur Debu, menjadi lahapanku setiap harinya. Di kelas aku bukanlah yang
terpandai, tapi aku juga bukan yang terburuk di kelas, seringkali anak-anak
pejabat yang pintar dan sombong itu merendahkanku, mencemoohkan ku, tapi aku
tahu “Tuhan itu adil tak sudilah dia
melihat hamba-hamba yang terbelenggu dalam kesusahan, setiap hamba itu memiliki
kesempatan untuk meraih mimpi mereka, tergantung dengan kegigihan mereka untuk
mencapai puncak mimpi mereka itu.” “ okelah hari ini aku akui aku satu langkah
dibelakang kalian tapi esok hari lihatlah, lihatlah aku dua langkah didepan
kalian!. Dengan tintaku ini akan ku taklukkan eropa, atau amerika bahkan dunia
sekalipun itu, dengan tintaku ini akan arungi samudra lepas dengan obak-ombak
besar yang menjadi rintangnya, dengan tintaku ini ku teriakkan kepada alam
semesta siapa aku sebenarnya !. tak ku hiraukan ejekan mereka yang selalu
berguming di telingaku setiap harinya, mereka itu hanya sampah, yah sampah yang
tak perlu aku fikirkan.
***
Sejak pesta semalam aku
dan Aini semakin dekat, semakin intens mengobrol, yah disekolah inilah kami
bisa banyak berbicara, Karena kalau via telepon, aku tak memiliki telepon
dikontrakan aku, dan juga aku takut jika menghubunginya. Di sekolahlah tempat
kami berbagi cerita dibawah pohon rindang disamping sekolah itu tepatnya, pepohonan
yang rindai, suasana hati yang ceria, suara Aini yang menyejukkan, tawa-tawa
kecil nan menggemaskan selalu berguming di otakku. Dan setiap hari aku selalu
bersemangat untuk bersekolah, datang lebih awal dari Igor dan yang lainnya, hanya
untuk melihat wajah ayunya di pagi hari dan mendengarkan berbagai cerita-cerita
harian yang dia ucapkan dari suara lembutnya.
“ Pagi Aini, selepas sekolah kamu
buru-buru ngga?”
“ Hei Aimar, pagi juga. Hmmm…
kayaknya ngga ada tuh, emang kenapa ?”
“ Kalo kamu ngga keberatan, sepulang
sekolah ke tempat biasa nongkrong yuk, ada yang kepengen aku omongin nih”
“ aman.. oke deh Aimar, ntar bareng
aja yah pulang”
“ hehehe sip mbak yu”
Selepas
sekolah sesuai janji aku dan Aini pergi ketempat biasa kami nongkrong
“ emm Ai… mar.. emang mau ngomng apa?”
Dengan menampakkan setangkai bunga dari
belakang badanku, dan memberikannya kepada Aini
“ Aini sayang, sudikah engkau
berbagai hati denganku? Aini yang jelita sudikah jikalau aku menjadi orang yang
engkau sayangi setelah keluarga dan sahabatmu? Aini yang kucinta maukan engkau
menjadi kekasihku?”
Dengan tersipu malu, pipi yang
memerah sontak menundukkan pandangannya tak berani matanya menatap mataku, dengan
sedikit gugup
“ Iiiihh apaan sih Aimar malu tau”
“ engga aku serius Aini, mau ngga?”
“ emmm gimana yah?, boleh ngga Di?”
“ Boleh apanya?” diriku semakin tak
karuan, berdebar debar rasanya, berkeringat aku, dingin tanganku dibuatnya
“ boleh ngga aku panggil kamu
sayang?” “ boleh ngga setelah ini kamu jangan berubah, boleh ngga selepas ini
kita seperti biasa-biasa aja, lepas gitu jangan ada yang dirahasiakan, soalnya
aku su…… ka aku suka kamu yang apa adaya, aku suka kamu yang lagi becanda, aku
suka kamu yang lagi serius, aku suka dewasanya kamu”
“ boleh kok, boleh banget malah,
nggalah, aku tetap terus begini beginilah aku apa adanya Aini hihi” menghela
napas lega meraih kemenangan akhirnya
“ oke deh, makasih ya emmmmm,
makasih ya sayang”
“
bwaahhhh sayang, kalimat itu, meledak kepala ku rasanya”
“ makasih kembali, eh hehe sayang”
“ hehe ih kamu, tetap Aimar aja yah,
kalo selain itu aneh rasanya, tapi aku tetep sayang kok hehe”
“ hehe iya iya deh Ni”
“ yaudah pulang bareng yuk, udah
sore nih gerimis juga”
Selepas mengantar Aini pulang, tak
sampai depan pintu sih karna aku takut bapaknya. Dengan hati yang berbunga
bunga, tampak kali muka ku yang berbinar-binar dengan sesegera mungkin bisa
sampai kontrakkan demi mencari Igor yang selalu pesimis dengan perjuanganku
“ Igor… hei Igor dimana pula kau
ini, aku ada kabar buat kau”
“ ei tak usahlah kau teriak-teriak Aimar
ini bukan Medan. Ada apa pula kau ini, pulang sekolah lama kali, macam ada
urusan Negara aja kau ini”
“ diamlah kau Igor, pokok nya aku
ada kabar buat kau, aku jadian sama si Aini”
“ bah serius kau?” “ iyalah mana
mungkin aku berbohong”
“ eh jadian pula kau lai rupanya
sama si Aini, makan enak kita mala mini, eh Arnlod makan kita malam ini, makan”
“ kau nih Todi makan aja yang kau
fikirkan, lihat itu badan kau udah kayak artis sumo kau” “ yang penting kita
kasih selamat lah buat lai kita ini, kita dukunglah kau itu juga Igor, kenapa
kau sirik kali sama Aimar”
“ aku bukannya sirik Nold, aku takut
aja sama Aimar ini mana sudilah bapaknya sama orang macam kita ini”
“ eh lai-lai ku udahlah jalani
sajalah, tak usah kalian ribut, yang penting aku teraktir kalian mala mini,
bakso bang Ujang”
“ nahh itu baru mantap,” ketiganya
kompak dengan nada yang sama.
***
Tiga tahun berlalu, selepas ujian
kami sebagai kepercayaan anak-anak Medan dengan beasiswa akhirnya lulus semua,
begitupula dengan Aini dan teman-temannya. Mengenai itu, aku dan Aini saat ini
masih saling mencintai, masih saling memepercayai, tapi masalahnya Aini
mengajakku kerumahnya, dia sudah lama memendam itu, ingin memeperkenalkan aku
dengan bapaknya, dengan berat hati akhirnya aku meng”iya”kan ajakkan Aini itu.
“ siang om..”
“ siang, siapa namamu?”
“ Aku Aimar Iman Pasaribu om”
“ ohh Medan kamu, bapak kau apa?
Punya apa bapak kamu?”
“ emm maaf om bapak ku hanya petani
kopi om”
“ oohh, begitu.. yaudah besok saja
yah, Aini tidak bisa diganggu hari ini, dia sibuk belajar, pengen kuliah,
pengen sukses dia, tak mungkinlah orang seperti kamu ini bisa menghidupi
anakku, tak tega lah aku, anak ku harus hidup lontang lanting dengan kamu, maaf
ya siapa Aimar, besok aja mainnya, besok waktu lebaran atau waktu pernikahan
Aini tentunya dengan saudagar kaya, sekali lagi maaf ya Aimar , yaah silahkan”
“ ohh, oke baik om pamit,
Assalamualaikum”
Entah kenapa saat itu sakit sekali
rasanya, tak terasa air mata ini jatuh, sakit aku dan keluargaku direndahkan!.
Dengan kejadian itu aku mantap, serius mencari beasiswa, karna untuk
melanjutkan sekolah bapakku tak punya uang, yah jalan satu-satunya ini dengan
beasiswa. Giat aku belajar sungguh- sungguh, mencari informasi-informasi
tentang beasiswa keluar negeri tentunya. Mengenai aku dan Aini, sejak itu kami
jarang bertemu walaupun hati kami tak bisa berbohong jika kami masih saling
cinta, jika kami saling rindu, dan teman-temanku, Igor akan berkuliah di
Universitas Indonesia,semenara Todi dan Arnlod balik kampung ke Medan.
Akhirnya
perjuanganku selama ini tak sia-sia aku mendapatkan beasiswa kuliah di Perancis,
ya aku lagi-lagi mendapatkan kesempatan emas unuk melanjutkan pendidikan di Université
Grenoble Alpe, di kota Grenoble Perancis mengambil bidang kesastraan.
Kabar baik itu ingin sekali aku
beritahu Aini, akhirnya sebelum keberangkatanku ke Perancis, melalui Karmila
teman dekatnya Aini, Aku dapat bertemu Aini di dermaga
“
hem hei Kesayangan apa kabarmu? “
“ hei baik, maaf yah perkataan ayah
ku tempo hari”
“ tak perlulah kau risaukan, justru
aku bersyukur dengan kalimat yang amat menyakitkan itu, aku menjadi lebih
bersemangat untuk sukses”
“ jadi kau ingin pergi ke eropa yah”
“ ya. Aku akan ke Perancis Ni, mengejar mimpiku sedari dulu,”
Dengan
air mata yang mulai menetes “ kau akan meninggalkan ku seorang diri disini mar?
takkah kau fikirkan lagi?”
“ mimpiku adalah mimpiku Ni, tekatku
sudah bulat, aku akan kembali lagi empat tahun berikutnya, aku akan
menjemputmu, lalu akan kurain mimpi lainku yaitu kamu, sayangku”
Kapal
akan segera berangkat gengaman erat tangan itu, harusku lepas, walaupun sebenarnya
tak inginku lepas, tapi sekali lagi eropa memanggil, mimipiku memanggil, dengan
segera kukeluarkan sapu dangan dari sakuku, dan kuusap air matanya dipipi
“ aku harus berangkat sayounara
sayang, I love you”
Aini tak mengeluarkan sepatah kata apapun,
hanya tertunduk, dan masih juga menangis.
***
Marseille, 22 Agustus 1951
Berbulan bulan lamanya aku berada dikapal
akhirnya aku tiba di Marseille, Perancis, (jauh – jauh hari sebelum ke
Perancis, aku sudah belajar bahasa Perancis dari ayahnya temanku waktu di SMOA
dulu). Disini, aku disini begitu asing, begitu sendiri, tak ada satupun yang
sama denganku berkulit sawomateng, semua orang disini berkulit pucat
kemerah-merahan atau, hitam legam. Sama seperti dermaga pada umumnya disini
disibukkan berbagai aktifitas-aktifitas pelabuhan dan perdagangan, ada juga
orang yang berbahasa Hindi, ada juga orang yang berbahasa cina, dan Arab,
semuanya hilir mudik sibuk dengan urusan masing-masing. Aku sendiri tak ambil
pusing karna harus segera mencari kendaraan yang bisa membawa aku ke Grenoble
Aimar
: “Désolé excuse monsieur je
veux demander?” (maaf, permisi saya boleh
bertanya?)
Pedagang : “oui s'il vous plaît voulez demander à ce monsieur” (iya silahkan, hendak
bertanya
apa tuan?)
Aimar : “savez-vous quel transport peut me prendre à Grenoble?”
(Apakah anda
tau
angkutan yang bisa membawa saya ke Grenoble?)
Pedangang : “tu veux grenoble? pour autant que je sache, il n'y a pas de
voitures, mais
un train
qui part de marseille à Grenoble” (anda mau ke Grenoble?, saya
tidak
tahu kalau kendaraan mobil, tetapi ada kereta yang berangkat dari
Marseille ke Grenoble)
Aimar : “pouvez-vous me montrer où est la station la plus
proche d'ici?” (bisakah
anda
menunjukkan stasiun terdekat dari sini?)
Pedagang : “Bien sûr, si vous sortez de ce quai, vous pouvez vous
diriger vers
l'ouest,
à environ sept cents mètres il y a une gare” (tentu, jika anda
keluar dari dermaga ini,
anda bisa menuju ke arah barat, sekitar tujuh
ratus
meter disana ada stasiun kereta api)
Aimar : “bon seigneur, merci beaucoup pour votre aide” (baikklah tuan,
terimaksih banyak
atas bantuan anda)
Pedagang : “également, heureux de vous aider monsieur, espérons survécu
à
Grenoble” (sama-sama, senang bisa membantu anda tuan,
semoga
selamat sampai Grenoble)
Aimar : “bien monsieur” (
baikklah tuan)
Dan akhirnya aku mengikuti
bapak-bapak pedagang itu, meyusuri jalan kearah barat. Sampai juga akhirnya aku
di stasiun, setelah membeli tikat dan mengantri jadwal keberangkatan, jadwalku
adalah pukul tiga sore, dan untuk sampai ke Grenoble kira-kira membutuhkan
waktu sekitar 2 jam lebih empat puluh tiga menitlah. Selepas itu pukul enam sore
langit langit Perancis telah berwarna oranye pekat, aku sampai di Grenoble, dan
langsung mencari-cari dimana Kampusku. Tak jauh dari stasiun rupanya, aku
menemukan gedung khas eropa yang megah, itulah Université Grenoble Alpe, dan
aku sesegera mungkin masuk, kekampus menanyakan dimana asrama kamu, ibu asrama
kampus dan sebagainya.
Dan
hari –hari itu berlalu aku sudah terbiasa dengan suasana terkadang dingin,
salju, gugur, yang tak ku temui di Indonesia, ay aku sudah terbiasa dengan
suasana kota Grenoble.
***
Batavia, 07 September 1955
Setelah empat tahun, tanpa pulang,
tanpa mengetahui bagaimana kabar, situasi dan kondisi di Indonesia, selepas
gelar sarjana Sastra kuraih, aku pulang, pulang keIndonesia mencari mimpiku
yang lain “Aini” itu mimpiku berikutnya, pulang dari dermaga aku mencari Igor
di kontrakkan lama di Kebon Kelapa. Syukur ternyata dia masih disisitu
rupanya. Kulihat tampang tak jauh
berbeda, hanya sekarang Igor memiliki kumis yang sedikit tebal pertanda
laki-laki sudah beranjak dewasa.
“ Igooor.. Laiiiiku… aku pulang
lai” berlalri menghampiri Igor yang
sedang sibuk dengan tanamanya, yah Igor amat menyukai tanaman sejak dia belia.
“ eiiiii kau Aimar, sialan kau pulang tak kasih kabar, empat tahun disana taka
da kabar kau, ku kira kau sudah wafat dimakan beruang disana kau hahaha”
“ kau ini tak berubah sedikitpun
baik penampilan maupun sikapmu, mana mungkinlah harimau sepertiku diterkam
beruang disana” “ haha kau ini Igor,
boleh tidak aku masuk ini kalau tak pulang sajalah aku ke Medan” ,
“
pulang sajalah kau hahha, tidaklah, mari masuk-masuk mar, ini kan rumah kau
juga”
Berita kepulanganku akhirnya sampai
ketelinga Aini, belum sempat aku menemuinya, dia yang memutuskan untuk
menghampiriku, di kontrakkan.
Dengan
sedikit rasa gelisah, rasa, tak nyaman, dari raut mukanya tampak ada sesuatu
hal besar yang dia ingin sampaikan kepadaku.
“ Hei Aimar, bagaimana keadaanmu?”
“ Hei Aini, aku baik, dan dikau
Aini”
“ aku baik Mar, kau tak berubah,
sekarang kau tampak lebih dewasa dari sebelumnya, lama mungkin tak jumpa”
“ iya itu karna membutuhkan waktu
yang sangat lama untuk pulang Ni, bisa-bisa memakan waktu tiga bulan lamanya”
“ kau tampak gelisah ada apa Aini,
takkah kau baghagia melihat kekasihmu ini pulang?”
“ sudahlah Mar, sekarang kita
kesekolah yuk, ketempak pohon rindang kita dahulu, “ Aini masih belum sanggup
untuk melontarkan sebuah rahasia yang ia pendam saat ini.
Sesampainya
sekolah, begitu banyak berubah suasana bangunan SMOA kami dahulu, dan syukurlah
Pohon itu masih ada sampai saat ini.
“ hei Aimar aku boleh ngomong
beberapa hal dengan kamu ngga?”
“ boleh silahkan saja Ni”
Huft Aini menghela napas, sepertinya
dia sudah siap dengan segala resiko kedepannya
“ Mar, pertama aku sangat teramat
merindukanmu Mar, empat tahun Mar, kau tanpa kabar, menghilang bak jarum
deitengah lautan”
“ eh bukannya aku selalu berkirim
surat kepadamu Aini, tak sampaikah surat itu?”
“ surat? Selama kepergianmu, aku tak
menerima secarcik surat darimu Mar”
Dan sesungguhnya surat
itu sampai kerumah Aini tapi tak sampai ditangan Aini, melainkan surat-surat
ituditampung oleh bapaknya, dan semua surat itu dibakarnya, suatu hari pernah
Aini bertanya kepada bapaknya apa yang bapaknya bakar itu?, bapaknya hanyap
cakap itu adalah surat-suarat tak penting.
“ tapi Aini?” “ aku belum selesai
berbicara Aimar!” “ kedua aku sangat mencintaimu, Aimar selama empat tahun itu”
dan yang terakhir adalah sebuah berita besar, dengan berat hati Aini berkata“
dan yang ketiga dan terakhir, maaf Aimar, aku bersungguh-sungguh meminta maaf
kepadamu, dua bulan lagi aku akan menikah dengan saudagar asal Banjarmasin, dan
selepas menikah aku akan, mengikuti suamiku ke Banjarmasin Mar”
“ hei hei, bercanda kau Aini, tak
ingatkah janji kita empat tahun silam di dermarga itu?, tak ingatkah kau
semuanya?, lelucon macam apa ini Aini, apakah kau membuat sebuah kejutah
untukku? Atau bagaimana? JAWAB AINI TOLONG JAWAB!”
“ Tak perlulah Mar, kita memang
saling mencintai, kita memang saling berjanji, tapi aku tak bisa melawan takdir
Tuhan Aimar, ini sudah jalan kita masing-masing, ini adalah rahasia Tuhan, dan
tak perlulah bagaimana aku harus menjelaskannya kepadamu”
Sketika
Aini berlalu begitu saja meninggalkan Aimar seorang diri dibawah pohon rindang
itu, kelopak mata yang sembab itu akhir nya tak kuasa membendung derai tangis,
membasahi pasar Aini, Aini yang sejujurnya masih teramat mencintai Aimar, dan
berhap selepas Aimar pulang , mereka akan hidup bersama-sama, harus takluk dan
tunduk dengan keadaan.
“ AINI…. AKU MENICINTAIMU, TERAMAT
MENCINTAIMU TAHUKAH KAU AKAN ITU DAN AKU JUGA SANGAT MEMBENCIMU AINI!!!” teriak
Aimar yang tak digubris oleh Aini.
Setelah itu, aku melewati hari-hariku
dengan patah, mimpi seorang sastrawan kuraih, tapi mimpiku bersama Aini itu
lenyap, kisahku “Tinta Pena dan hati yang
sakit” lupakan semua, memang sulit, terkadang untuk sesuatu yang besar kita
harus melepaskan yang berarti bagi kita. Lantas apa aku harus kalah dengan
keadaan? Tentu tidak, aku tak akan kalah, aku adlah pejuang sejati, aku akan
menapaki hidup dan karirku dengan atau tanpa Aini itu tak masalah, aku punya
hidup dan hidupku bukan hanya Aini, pecundang aku jika harus meratapi kepedihan
ini, tunggu waktunya aku akan menang, aku akan buktikan kesemua orang, akan
kubalas dendamku dengan prestasi-prestasiku, akanku buat diam mereka itu, akan
ku buat semua orang bertepuk tangan, dan mengangkat topinya kepadaku. Terkhsus
kau Aini, terimakasih untuk waktumu.
Di hari pernikahan Aini, tentu aku
datang ke resepsi pernikahannya bersama dengan Igor, aku datang dengan kepala
tegak, aku tak merasa kalah, karna hati Aini masih untukku, justru Ainilah yang
kalah, kalah dengan keadaannya. Dimomen yang sakral itu, aku dan Igor
menghampiri mereka dipelaminan memberi ucapan selamat, berjabat tangan, dan aku
memberikan setangkai mawar kepada Aini, mungkin kelak mawar itu akan berwarna
hitam, mawar adalah lambang keindahan dan kepedihan, indah melihat bunganya,
pedih jika harus mengenggamnya.
Sepulang dari pernikahan Aini, “
Gor, benar cakap kau waktu itu rupanya”
“ haha aku tak pernah salah, aku itu
baik kepadamu Aimar” “ terimakasih banyak lai, sekarang kita mulai dari nol,
disinilah sesungguhnya awal-awal mimpi kita gor”
“ tenang ajalah kau Aimar, aku ni
sahabat sejati kau ahahaha”
Aku pulang berjalan kaki bersama Igor,
menikmati pemandangan kota di kala senja tampak diseberang sana, segerombolan
orang sedang bekerja sama memotong pohon rindang di sekolahku dulu, pohon
rindang milik aku dan Aini.
TAMAT
Terimaksih dan salam hangat sahabat J

Komentar
Posting Komentar